ANALISIS MANAGEMEN AKSI (Demontrasi 11 April 2022)
Dalam aksi
mahasiwa 11 April 2022 dalam aksi tersebut dilihat sangat acak-acakan dan tidak
berjalan sebagaimana mestinya, mungkin pada waktu itu mahasiswa mempunyai
setting aksi yang memang brilian dalam rapat konsolidasi BEM tetapi mahasiswa
lupa dengan kondisi hari ini di indonesia, seharusnya mahasiswa mampu
menetralisir kepentingan-kepentingan yang akan masuk dalam aksi tersebut.
Dalam aksi
tersebut terjadi Penganiayaan yang di lakukan olah kelompok-kelompok yang
memang memperkeruh sesuasana, sehingga terjadi penganiayaan dan pengeroyokan
terhadap aktivis sekaligus akademisi (Dosen) yaitu Ade Armando, yang mana
seharusnya pihak mahasiswa bisa membaca situasi ini dari awal sehingga dalam
aksi tersebut tidak nampak tuntutan mahasiswa, teralihkan atau yang nampak
adalah kasus penganiyaan/pengeroyokan Ade Hermando yang menjadi viral di media nasional
maupun internasional.
Hal ini penulis
cermati bahwa dalam aksi yang mengundang ribuan massa dari mahasiswa akan berpengaruh
terhadap hasrat manusia-manusia yang memang tidak suka ketika berjalannya
pemerintahan hari ini, wajar sekali ketika aksi ribuan mahasiswa rentan dengan
penyusupan atau infiltrasi baik dari orang-orang yang berkepentingan secara
politik maupun orang-orang yang berkepentingan secara basis.
Biasa nya dalam
kajian-kajian atau Latihan Kepemimpinan Kampus di BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa)/DPM/MPM atau
dalam sebutan lainnya selalu ada Manajemen aksi Manajemen aksi adalah sebuah sistem pengaturan demonstrasi (aksi massa) yang dilakukan oleh beberapa orang untuk
menggalang opini publik terhadap suatu masalah yang muncul dan berkembang
sehingga diharapkan lahir sebuah perubahan sosial. Yang mana dalam Management Aksi tersebut ada yang dinamakan perangkat
aksi terdiri dari :
1. Jenlap (Jenderal Lapangan)
Adalah Pengambil posisi/keputusan tertinggi di lapangan, tidak bisa
komunikasi selain dengan kurir-nya saja, tidak boleh diketahui banyak orang,
kecuali struktur aksi saja.
2. Danlap (Komandan Lapangan)
Adalah Pelaksana kebijakan yang diperintahkan Jenlap, dengan
konsultasi dengan Danlap yang mengomandoi divisi di lapangan.
3. Wadanlap ( Wakil Komandan Lapangan)
Adalah wakil Danlap yang membantu tugas Danlap di lapangan (dengan
konsultasi dengan Danlap)
4. Divisi Dinlap (dinamisator lapangan)
Bertugas men-dinamisir massa agar tetap semangat dan mengatur
jalannya orator di depan.
5. Divisi Aster (asisten teritorial)
Penjaga barisan massa, agar tidak lepas/keluar dari barisan aksi.
6. Divisi Sweeper
Bertugas “menyapu” massa yang berada diluar barisan agar kembali
kedalam barisan, serta menyisir massa yang tertinggal setelah aksi selesai
dilakukan.Dan pulang paling terakhir sampai di base camp.
7. Divisi SS (secret security)
Adalah kontra intelijen. Tugasnya melindungi posisi tertinggi di
lapangan (Jenlap dan Danlap) dan mencari informasi seputar intelijen yang
berada di aksi massa. Keberadaan SS tidak boleh diketahui banyak orang.
8. Divisi Humas/public relation
Bertugas membuat pernyataan sikap aksi secara tertulis dan
men-sosialisasikan kepada pers/wartawan (media cetak&media elektronik).
9. Divisi
Kronologis (reporter)
Pencatat kejadian-kejadian penting ketika aksi sedang berjalan,
lengkap dengan lokasi,hari,pukul.
10. Divisi Lobby (negoisator)
Adalah negoisator aksi, bertugas melakukan negoisasi dengan aparat
yang menghadang, atau aksi organisasi lain yang aksi pada saat bersamaan dan
memiliki issue yang sama.
11. Divisi Kurir
Adalah divisi penyambung lidah, yang bertugas menyampaikan pesan
informasi dari Jenlap ke Danlap, dari Danlap ke koordinator Divisi-Divisi
12. Divisi Advokasi
nonlitigasi
Melakukan pembelaan non hukum jika massa aksi tertangkap, pembelaan
bersifat pengumpulan bukti di lapangan, menghubungi pengacara.
Setelah
pembagian kerja, jika dibutuhkan setiap divisi melakukan rapat pleno guna
merumuskan apa yang harus dilakukan ketika aksi, kemudian di floorkan kepada
peserta rapat untuk disahkan
Terakhir bahwa sangat
mengerikan dan di rasa sangat keji melihat seorang pengajar atau guru yang mana
seorang dosen di tendang di telanjangi bahkan di sebut halal darahnya dengan di
sertai teriakan suci yang seharusnya tidak berbarengan dengan perilaku
tersebut, sangat brutal menggunakan kalimat suci untuk menghakimi dan
menganiaya seseorang, letak kemanusiaannya ada dimana??? Terlebih beliau
seorang guru,
Penulis
Hafidulloh Sueb
S.H

Komentar
Posting Komentar